Sampit Expos55.com Kubah atau makam Syekh Abu Hamid bin Syekh Haji Muhammad As`ad Al Banjari di Pantai Ujung Pandaran Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, telah direlokasi dan segera dikembangkan menjadi destinasi wisata religi.

“Kubah atau makam Syekh Abu Hamid ini merupakan salah satu pengembangan destinasi wisata religi. Letaknya juga di daerah wisata Pantai Ujung Pandaran. Itu akan kita kembangkan menjadi salah satu wisata religi. Kita melihat bagaimana pengelolaan wisata religi di Sekumpul Martapura,” kata Bupati Halikinnor di Sampit, Kamis.

Syekh Abu Hamid menurut nasabnya yaitu Syekh Abu Hamid bin Mufti Muhammad As’ad bin Syarifah binti Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Syekh Abu Hamid adalah buyut dari ulama terkenal di Kalimantan Selatan yakni Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau lebih dikenal dengan sebutan Datu Kalampayan, yang terkenal dengan kitab karangannya berjudul Sabilal Muhtadin yang hingga kini banyak digunakan di sejumlah negara.

Kubah Syekh Abu Hamid terletak di selatan Pantai Ujung Pandaran telah lama menjadi objek wisata religi dan banyak didatangi peziarah dari luar daerah. Namun kini keberadaannya terancam hancur akibat abrasi yang terus menggerus pantai tersebut, bahkan jalan menuju kubah sudah lama terputus sehingga peziarah harus menggunakan perahu motor.

Untuk itulah akhirnya disepakati untuk merelokasi makam atau kubah tersebut. Pihak zuriat Datu Kalampayan dua kali datang ke lokasi hingga akhirnya menyetujui relokasi tersebut dengan difasilitasi Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur.

Relokasi makam atau kubah telah dilaksanakan Rabu (15/9) kemarin. Lokasi baru kubah tersebut masih berada di Pantai Ujung Pandaran namun lokasinya dinilai aman dari abrasi karena sudah ada tanggul besar yang selama ini melindungi kawasan itu dari abrasi akibat kuatnya hantaman gelombang dari Laut Jawa.

Relokasi dilakukan oleh pihak keluarga atau zuriat Datu Kalampayan dan dihadiri sejumlah ulama. Bupati Halikinnor bersama Sekretaris Daerah Fajrurrahman turut hadir dalam acara tersebut.

Peti jenazah dibawa menggunakan kelotok menuju lokasi baru, kemudian dimakamkan. Selanjutnya digelar doa bersama.

Halikinnor mengaku bersyukur karena relokasi berjalan lancar sesuai harapan. Rombongan zuriat dan yayasan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari juga telah kembali ke Kalimantan Selatan.

“Tanggal 8 Safar rencananya akan dilaksanakan haul pertama. Kita akan kembangkan kawasan itu dengan membangun alkah, termasuk mushalla, tempat parkir dan fasilitas lain. Kita juga akan membuat pasar untuk masyarakat di sana menjual hasil kerajinan laut maupun barang lain,” demikian Halikinnor.
(antara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here