Sukamara Expos55.com  Bupati Sukamara, Kalimantan Tengah Windu Subagio mengatakan, stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis terutama pada seribu hari pertama kehidupan (HPK) yang dimulai saat masih dalam kandungan.

“Stunting memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak anak, stunting juga memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit kronis di masa dewasanya,” kata Windu di Sukamara, Rabu.

Hal itu ia sampaikan saat pencanangan aksi terpadu percepatan penurunan stunting di Desa Pulau Nibung, Kecamatan Jelai. Stunting menjadi perhatian Badan Kesehatan Dunia yang juga merupakan prioritas yang harus ditangani oleh pemerintah sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Berdasarkan data 2020, prevalensi stunting di Sukamara masih berada di bawah prevalensi Provinsi Kalimantan Tengah dan prevalensi nasional yaitu sebesar 16,27 persen.

“Kendati demikian permasalahan stunting ini tetap menjadi perhatian serius,” tegasnya.

Lebih lanjut disampaikannya, data hasil analisis situasi 2021, pada 2022 ada empat lokus prioritas penanganan percepatan penurunan stunting di Sukamara, yakni Desa Pulau Nibung Kecamatan Jelai, Desa Jihing dan Pempaning Kecamatan Balai Riam, serta Desa Sukaraja Kecamatan Sukamara.

Untuk itu, ia juga telah meminta seluruh kepala perangkat daerah beserta jajaran, para camat, unsur pemerintahan desa, swasta dan seluruh komponen masyarakat bersama-sama bersinergi melakukan aksi secara komprehensif sebagai upaya percepatan penurunan stunting.

Dijelaskannya, hal ini selaras dan sejalan dengan lima Pilar Strategi Nasional dalam penanggulangan stunting yang meliputi beberapa aspek, yakni komitmen pimpinan daerah, promosi dan perubahan perilaku, konvergensi, koordinasi dan konsolidasi antar pemangku kepentingan, ketahanan pangan dan gizi, serta pemantauan dan evaluasi.

Terkait dengan hal ini, upaya menangani penyebab langsung masalah stunting adalah lebih menitikberatkan pada beberapa faktor penanganan penyebabnya seperti ketahanan pangan khususnya akses terhadap pangan bergizi, hingga lingkungan sosial yang terkait dengan praktik pengasuhan bayi dan balita.

“Juga faktor akses terhadap pelayanan kesehatan untuk pencegahan dan pengobatan, serta faktor kesehatan lingkungan yang meliputi tersedianya sarana air bersih dan sanitasi maupun pengelolaan sampah yang layak, rincinya.
(antara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here