Palangka Raya Expos55.com  Sejumlah pedagang di pasar tradisional di Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah belum menjual minyak goreng sesuai harga eceran tertinggi (HET) seperti yang ditetapkan pemerintah.

“Untuk toko ritel modern harga sudah sesuai. Namun untuk pedagang eceran dan di pedagang pasar tradisional, harga minyak goreng masih tinggi, belum sesuai HET,” kata Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin di Palangka Raya, Kamis.

Dia menerangkan, sejumlah pedagang di pasar tradisional masih menjual minyak goreng dengan harga Rp20.000 hingga Rp23.000 per liter dan Rp41.000 hingga RRp43.000 per liter, tergantung merek.

“Ini karena pedagang masih menyesuaikan dengan harga modal. Mereka juga tidak mendapat subsidi, retur dari agen maupun distributor,” kata Fairid.

Meski demikian, lanjut dia, masyarakat tidak termakan isu kelangkaan pasokan minyak goreng. Warga juga diminta bijak dan berbelanja tidak berlebihan.

“Hari ini saya bersama Disperindag dan Dinas Ketahanan Pangan memantau pasar dan distributor. Memang harga masih tinggi tapi stok minyak goreng masih aman,” katanya.

Pihaknya juga akan terus melakukan pemantauan secara berkala serta berkoordinasi dengan distributor dan bulog untuk memastikan tidak ada kelangkaan minyak goreng.

Sementara itu, Solehah yang merupakan pedagang di pasar tradisional di Kota Palangka Raya mengaku belum menerapkan HET pada minyak goreng.

“Kita masih menjual minyak goreng di atas Rp14.000 per liter. Kita menghabiskan stok yang waktu kita beli harganya masih tinggi. Jika sesuai HET, saya rugi,” kata ibu dua anak ini.

Dia pun berharap pemerintah atau pihak terkait lainnya dapat memberlakukan penukaran atau subsidi sehingga harga jual minyak goreng dapat disesuaikan dengan HET.

“Jika ada penggantian selisih harga modal, saya sangat bersedia menjual minyak goreng dengan harga yang telah ditentukan dan disesuaikan pemerintah,” katanya.

Pedagang lain, Zaenab yang menjual minyak goreng secara eceran mengaku juga belum dapat menjual sesuai batas atas tertinggi yang ditetapkan pemerintah.

“Jika saya jual seliter Rp14.000 saya akan rugi banyak. Modalnya saja di atas itu. Mungkin jika stok ini habis dan ada yang baru maka harga akan kembali kita sesuaikan. Intinya jangan sampai pedagang kecil seperti saya rugi,” demikian Zaenab.
(ant/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here