Muara Teweh Expos55.com Tiang pancang jembatan yang menghubungkan Kelurahan Tumpung Laung – Desa Sikan Kecamatan Montallat Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, yang ditabrak sebuah tongkang bermuatan ribuan ton batu bara di Sungai Barito mengalami kerusakan yang cukup serius.

“Hasil sementara pengecekan atas insiden yang terjadi pada Selasa (7/9) malam  sekitar pukul 20.00 WIB itu diperkirakan tiang pancang pada titik pier 3 (P3) mengalami kerusakan sekitar 75-80 persen,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Barito Utara Muhammad Iman Topik ketika melakukan pengecekan jembatan di Kelurahan Tumpang Laung Kecamatan Montallat, Rabu.

Dalam pengecekan tersebut Kadis PUPR Barito Utara didampingi Kabid Bina Marga Dedi dan Kabid Perhubungan Sungai dan Penyeberangan Dinas Perhubungan setempat Rizalfi serta pejabat tekis lainnya.

Menurut dia yang akrab dipanggil Topik ini pihaknya masih melakukan investigasi  atas material yang tersisa dan melakukan pendalaman atas perhitungan-perhitungan serta menganalisasi atas beberapa kerusakan.

Berdasarkan keterangan dari pejabat Dinas Perhubungan Barito Utara yang ikut dalam pengecekan tiang pancang jembatan tersebut dilihat dari posisi letak tiang secara prosedur bahwa tiang pancang pada titik P3 itu berada di posisi aman.

“Artinya posisi tiang tidak menganggu zona pelayaran  atau zona lalu lintas kapal di alur Sungai Barito atau di kawasan proyek pekerjaan,” kata dia.

Atas kerusakan yang terjadi, kata Topik, pihaknya telah berkoordinasi dengan Polres Barut melalui Polsek Montallat dan saat ini teman-teman dari kepolisian juga sedang memintai keterangan dan melakukan penyelidikan pendalaman terhadap kejadian tersebut.

“Ini merupakan insiden ketiga yang terjadi di proyek yang sedang dilakukan saat ini yakni pembangunan jembatan yang menghubungkan Tumpung Laung – Sikan Kecamatan Montallat,” kata Topik.

Kabid Bina Marga Dedi menambahkan dari hasil pengecekan tadi bahwa tiang pancang di P3 itu sebanyak 22 tiang dan atas kejadian tersebut mengakibatkan  tiang yang tenggelam sebanyak delapan tiang, kemudian tiang yang miring serta bergoyang ada delapan tiang, sedangkan tiang yang masih baik hanya tersisa enam tiang.

“Untuk sementara tiang yang masih tersisa dalam kondisi baik ada enam tiang, sedang lainnya ada yang hilang dan rusak,” ucap Dedi.

Jembatan dengan panjang 697 meter lebar 8 meter ini pengerjaannya sedang digenjot. Pembangunan jembatan menggunakan sistem multiyears (tahun jamak) dengan nilai kontrak Rp21,8 miliar dengan pengerjaannya dimulai sejak Januari 2020.

Di tempat yang sama, Kabid Perhubungan Sungai dan Penyeberangan Dinas Perhubungan setempat Rizalfi menjelaskan tongkang bermuatan ribuan ton batu bara itu ditarik oleh kapal tunda (tugboat) TB Brahma 7 dan BG Anand 5, mengangkut batu bara milik PT Asmin Bara Bronang Kapuas melalui pelabuhan PT TOP Paring Lahung Kabupaten Barito Utara.

“Informasi dari petugas pandu di lokasi, Saniansyah pada saat kejadian cuaca cerah dan jarak aman untuk berlayar.Disamping itu pada rangkaian tiang pancang jembatan  sudah dipasang penerangan (lampu sorot) dan rambu-rambu,” kata Rizalfi.

Pada saat kapal dengan jarak sekitar 1.500 meter dari posisi tiang pancang, petugas pandu sudah menginformasikan kepada kapten kapal bahwa agar kapal menarik tongkang ke arah kiri hilir (ke tengah sungai) karena posisi  tongkang dekat  dengan bangunan terapung (lanting) masyarakat.

Komunikasi antara pandu dengan kapten kapal terus berlangsung melalui radio, namun posisi kapal tidak kunjung ditarik sehingga tongkang terus terdorong arus yang kuat ke arah kanan turun, sehingga kejadian tertabraknya rangkaian tiang pancang jembatan tersebut tidak terhindarkan lagi.

Padahal saat kapal melintas  dari jarak 1.000 meter  dari arah hulu  telah dipandu atau diasis oleh kapal bantu milik masyarakat setempat.

“Hasil pemantauan kami di lapangan arus sungai di lokasi tersebut memang sangat deras dan mengarah ke kanan turun tempat posisi rangkaian tiang pancang, namun alur  pelayaran sangat lebar karena jarak tiang  dengan tiang lainnya sekitar 200 meter dan juga jarak pandang cukup jauh kurang lebih 2.000 meter dari tikungan,” tegas Rizalfi.

Selain itu, lanjut dia,  letak dan posisi rangkain tiang pancang sudah berada di pinggir sungai dengan jarak sekitar 20 meter dari bibir sungai pada saat kejadian kondisi debit air naik (banjir) dan posisi  tersebut hampir sejajar dengan bangunan terapung milik masyarakat.
(antara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here