Palangka Raya, expos55.com Perubahan mendasar pada Asesmen Nasional adalah tidak lagi mengevaluasi capaian peserta didik secara individu, tapi mengevaluasi dan memetakan system pendidikan berupa input, proses dan hasil.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, H. Akhmad Fauliansyah saat membuka Rakor Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) secara virtual, Rabu (25/08/2021).

“Potret layanan dan kinerja dari setiap satuan pendidikan dari hasil asesmen nasional ini kemudian menjadi cermin untuk kita bersama-sama melakukan refleksi mempercepat perbaikan mutu pendidikan di Kota Palangka Raya,” ujarnya.

Dia menjelaskan asesmen nasional terdiri dari tiga bagian. Pertama, asesmen kompetensi minimum (AKM) yang dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi.

Kedua, aspek kompetensi minimum ini menjadi syarat bagi peserta didik untuk berkontribusi di dalam masyarakat, terlepas dari bidang kerja dan karier yang ingin mereka tekuni di masa depan.

“Kedua, Survei Karakter yang dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar sosial-emosional berupa pilar karakter untuk mencetak Profil Pelajar Pancasila yang berlandas keimanan dan bertakwa kepada Allah serta berakhlak mulia, berkebhinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif,” katanya.

Ketiga, Survei Lingkungan Belajar yaitu untuk mengevaluasi dan memetakan aspek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah.

Dijelaskan, asesmen nasional 2021 dilakukan sebagai pemetaan dasar dari kualitas pendidikan yang nyata di lapangan, sehingga tidak ada konsekuensi bagi sekolah dan murid.

Kepala Bidang Pembinaan SMP, Muhamad Aswani menyampaikan materi persiapan ANBK 2021 dan Kabid SD Rachmad Winarso menyampaikan kebijakan persiapan asesmen nasional triwulan 2021.

Jika pada ujian nasional siswa harus mengikuti ujian komputer dan ujian tertulis, maka pada asesmen nasional 2021 mereka akan diuji menggunakan sistem soal yang berlapis.

Ujiannya tentu dilakukan menggunakan sistem komputer yang disesuaikan kemampuan siswa. “Jadi beban soal yang diberikan tidak semuanya sama. Artinya, siswa bakal diberikan soal berdasarkan kemampuan belajarnya,” ujarnya.

Nilai ukur dalam ujian, jika pada ujian nasional nilai yang didapatkan dihasilkan berdasarkan kompetensi di setiap mata pelajaran, maka pada asesmen nasional 2021, siswa akan dinilai berdasarkan pencapaian kompetensi berdasarkan kemampuannya.

“Ada banyak aspek yang bakal dinilai, seperti kompetensi literasi dan numerasi siswa, lingkungan belajar siswa, hingga karakter dari siswa masing-masing. Artinya, sistem ujian yang diberikan lebih personal dan mengukur nilai siswa berdasarkan kemampuannya pada bidang yang diujikan,” ungkapnya.

Peserta tes, poin ini cukup menarik untuk dibahas. Jika sebelumnya siswa yang mengikuti Ujian Nasional adalah yang duduk di tingkatan terakhir, seperti kelas 6 SD, kelas 9 SMP dan kelas 12 SMA, pada asesmen nasional 2021 pesertanya justru siswa yang berada di tingkatan satu tahun sebelum kelulusan.

“Artinya yang diuji adalah siswa kelas 5 SD, kelas 8 SMP dan kelas 11 SMA. Jadi ujian yang diberikan tidak lagi dalam satu waktu seperti Ujian nasional, tapi dalam satu periode belajar,” katanya.

Laporan hasil tes. Jika pada ujian nasional, laporan hasil tes ditentukan berdasarkan nilai setiap peserta ujian, nilai satuan pendidikan dan nilai agregat per wilayah, maka pada asesmen nasional 2021 justru mendapatkan laporan hasil tes berdasarkan nilai satuan pendidikan dan nilai agregat per wilayah saja seperti desa, kota atau kabupaten dan provinsi.

Jenis Soal, soal-soal ujian yang akan diberikan saat asesmen nasional 2021 berfokus pada kompetensi yang lebih luas atau high-order thingking skill (HOTS).

 

 

(MC. Isen Mulang/wln)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here